16 Jul, 2024

Sejarah Syarikat Islam (SI)

2 Menit Baca

Syarikat Islam (SI), yang awalnya dikenal sebagai Sarekat Dagang Islam (SDI), didirikan pada tahun 1911 di Surakarta oleh Haji Samanhudi. Organisasi ini awalnya bertujuan untuk membantu para pedagang batik pribumi dalam menghadapi persaingan dari pedagang Tionghoa. Seiring waktu, SI berkembang menjadi organisasi yang lebih besar dengan tujuan yang lebih luas, termasuk memperjuangkan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik rakyat Indonesia.

Tahap Awal dan Pendirian (1911)

1911: Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi. SDI dibentuk sebagai respons terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi oleh para pedagang batik pribumi di Surakarta, terutama dalam persaingan dengan pedagang Tionghoa yang sering mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah kolonial Belanda.

Perubahan Nama dan Perluasan Tujuan (1912)

1912: SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama ini mencerminkan perluasan fokus organisasi dari semula hanya pada isu-isu perdagangan menjadi mencakup isu-isu sosial dan politik yang lebih luas.

  • Perluasan Keanggotaan: SI mulai membuka keanggotaannya tidak hanya untuk pedagang batik, tetapi juga untuk semua elemen masyarakat pribumi. Ini membantu SI tumbuh menjadi organisasi massa yang besar dan berpengaruh.

Peran dalam Pergerakan Nasional

  • Kongres Nasional Pertama (1916): SI mengadakan Kongres Nasional pertamanya di Bandung. Kongres ini mempertegas tujuan SI dalam memperjuangkan hak-hak ekonomi dan politik rakyat Indonesia, serta menjadi platform penting untuk menyuarakan aspirasi nasional.

Perpecahan dan Tantangan Internal (1920-an)

  • Perpecahan Internal: Pada tahun 1920-an, SI mengalami perpecahan internal antara fraksi yang lebih radikal dan fraksi yang lebih moderat. Fraksi radikal, yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto, cenderung lebih revolusioner, sementara fraksi moderat, yang dipimpin oleh H. Agus Salim, lebih fokus pada pendekatan yang lebih damai dan diplomatis.
  • 1921: SI terpecah menjadi SI Putih (dipimpin oleh Agus Salim) dan SI Merah (dipimpin oleh Semaun, yang kemudian berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia).

Transisi ke Partai Politik

  • 1927: Setelah beberapa tahun perselisihan internal, SI Putih membentuk Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), yang kemudian menjadi salah satu partai politik terkemuka di Indonesia pada masa kolonial.

Masa Kemerdekaan dan Pasca Kemerdekaan

  • 1945: Setelah Indonesia merdeka, PSII tetap aktif dalam kancah politik nasional, meskipun pengaruhnya mulai menurun dibandingkan partai-partai lain yang lebih dominan.
  • 1960-an: PSII terpecah lagi menjadi beberapa faksi kecil akibat perbedaan pandangan politik dan strategi.
  • Sejak 1970-an: Pengaruh PSII dalam politik Indonesia terus menurun, tetapi organisasi ini tetap eksis dan berfungsi sebagai wadah perjuangan ekonomi dan sosial umat Islam di Indonesia.